Rabu, 09 Mei 2012

Mereka Terus menanjak, Kita Terus diinjak

Oleh: Rawa Beraya
Dari masa ke masa, terutama isu-isu terkini, terkait keagamaan, citranya semakin tersurutkan. Termasuk yang terkena getahnya adalah kampus-kampus Islam, terkhusus di fakultas agama, termasuk ushuluddin, bahkan memang terfokus ke sana. Kita mungkin masih ingat dimana ushuluddin—terutama IAIN di jawa dulu—citranya hanyut tak terbendung dibawa liberalisme, pluralisme, dan skeptisme ke laut lepas hingga ia kelelahan bernapas dan berenang ke tepi. Walaupun kemudian ia sampai juga ke tepi dan dapat berlari lagi, dan yang membawanya—yang sengaja menghanyutkan itu—perlahan ternyata juga tidak bisa berenang, dan tenggelamlah ia ditelan kesombongannya sendiri. 

 Dari masa ke masa, menurut sebagian orang—mungkin juga mahasiswa di IAIN yang sekarang berubah menjadi UIN—penyombong yang theking (bukan supporter PSPS) itu sudah benar-benar tenggelam. Sehingga mulai juga melupakannya tanpa memastikan dulu apakah ia sudah benar-benar tenggelam.

Mungkin sikap itulah yang kemudian si theking itu leluasa belajar berenang untuk bertahan hidup walau sesambil saja saat hendak sekarat. Tanpa diketahui ternyata dengan kepayahannya mencari tepi laut, akhirnya sampai juga ia ke tepi. Ketika itulah mereka mulai merangkai kembali kerangka baru dan membungkusnya dengan kertas layang dengan indah. Indah sekali, menjauhi keindahan yang lama. Apa yang terjadi? Ia kemudian menerbangkannya dengan kendali mereka. Dengan benang kaca yang lebih kuat dan tajam. 

Perlahan tapi pasti. Itulah gerak mereka saat ini. Mereka terus bergerak membalas dendam dari kekalahan mereka dulu (kekalahan karena kebodohan mereka sendiri). Akan tetapi yang dikejar tak juga sadarkan diri, yang lebih parah malah terdiam terlena bak burung yang terkena getah. Siapa kita? Siapa mereka?
Catatan awal tentang Yudaisme

Tidak ada komentar:

Posting Komentar